Arena Digital Studio

multimedia solution

Riuh Rendah Wacana Capres

Pemilihan legislatif belum terselenggara, wacana pencalonan presiden malah sudah lebih dulu ramai. Para politisi seakan mengabaikan pemilihan legislatif. Ada indikasi, ada pihak yang memanfaatkan pilpres ini sebagai ajang balas dendam, dan ada juga yang membuatnya sekadar dagelan.

Pemilihan legislatif belum terselenggara, wacana pencalonan presiden malah sudah lebih dulu ramai
Meningkatnya suhu politik menjelang pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) sebenarnya menjadi hal yang lumrah. Namun, menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 ini, sepertinya ada sesuatu yang tidak normal dimana hingga sebulan menjelang pelaksanaan pileg, 9 April 2009, banyak masyarakat yang belum mengerti tata cara pemilihan, bahkan kapan pelaksanaannya. Tapi sebaliknya, petinggi partai dan para politisi seolah mengabaikan pileg, sibuk membicarakan pencalonan presiden.

Padahal seperti diketahui, wacana pencalonan presiden tertentu hanya akan tinggal wacana jika perolehan suara partai atau koalisi partai pendukungnya tidak memenuhi persentase seperti yang ditetapkan undang-undang. Artinya, pemilihan legislatif adalah langkah awal menuju pemilihan presiden. Tapi nyatanya, perjuangan perolehan suara partai sepertinya hanya dipasrahkan kepada masing-masing calon legislatif secara sendiri-sendiri.

Sejak tahun lalu, wacana pencalonan presiden ini sebenarnya sudah mulai marak tatkala beberapa partai mendeklarasikan nama capresnya. Seperti, Megawati Soekarnoputri, Wiranto, Sutiyoso, Sultan Hamengku Buwono X, dan Prabowo Subianto. Di samping itu, masih banyak lagi tokoh-tokoh yang diwacanakan tapi belum dideklarasikan oleh partai tertentu seperti Amien Rais, Sutrisno Bachir, Din Syamsuddin, Akbar Tandjung, dan lainnya. Sementara incumbent Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), dalam diamnya, juga turut jadi bahan wacana.

Belakangan, wacana pencalonan presiden pun semakin riuh tatkala keduanya akhirnya menyatakan bersedia dicalonkan menjadi orang nomor satu di negeri ini. Pertama-tama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan siap menjabat untuk periode kedua. Walau sebelumnya Partai Golkar selalu mengatakan akan menentukan capres pascapemilihan legislatif, tapi sebelum pileg diselenggarakan, ternyata JK juga ikut menyatakan siap dicalonkan partai yang dipimpinnya itu menjadi RI 1, berhadapan dengan Presiden Yudhoyono.

Kesediaan JK itu sempat menjadi bahan polemik di masyarakat. Ada pihak menduga bahwa pernyataan itu tak lebih dari manuver politik belaka. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang merupakan anggota Dewan Penasihat Partai Golkar sempat menyebut pernyataan JK itu hanya move saja.

Pendapat demikian memang tidak terlalu berlebihan mengingat pernyataan JK tersebut dilatarbelakangi dorongan beberapa pimpinan DPD Partai Golkar. Dorongan yang terkesan muncul karena pengaruh pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Achmad Mubarok yang dianggap merendahkan Partai Golkar.

Ucapan Achmad Mubarok yang memperkirakan perolehan suara pemilih legislatif Golkar 2,5 persen saja membuat ada friksi dalam Partai Golkar dan Partai Demokrat. Pernyataan itu menyinggung keluarga besar Golkar, termasuk JK. Walau SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat telah mengoreksi dan meminta maaf secara terbuka atas pernyataan anggotanya, namun para pengurus Partai Golkar sepertinya belum mampu menghilangkan kekesalannya. Dalam suasana begitu, beberapa pimpinan DPD Partai Golkar pun mendatangi kediaman JK mengusulkan agar JK bersedia dicalonkan menjadi presiden pada pilpres 8 Juli 2009 nanti. Permintaan itulah yang mendorong JK menyatakan bersedia dicalonkan menjadi presiden RI 2009-2014.

Mengingat masa jabatan duet SBY-JK masih ada beberapa bulan lagi, friksi dua partai itu dikhawatirkan akan mengganggu kinerja keduanya di akhir masa jabatannya. Maka, seakan menjawab kekhawatiran masyarakat tersebut dan berhubung Wapres JK juga belum sempat bertemu dengan Presiden SBY sejak kepulangannya dari lawatan ke beberapa negara pertengahan Februari lalu, JK pun menemui SBY di kediaman pribadinya di Puri Indah Cikeas. Karena diadakan ditengah adanya polemik tadi, pertemuan SBY-JK itu pun tetap menimbulkan multitafsir. Salah satunya ialah pertemuan itu ditafsirkan dalam kapasitas sebagai calon presiden yang diusung partai masing-masing untuk mempertegas posisi ‘tidak bersama pun kita bisa’. Lagipula, sejak pernyataan kesediaannya, keseriusan JK mengikuti kompetisi calon presiden semakin terlihat.

Walaupun tidak dinyatakan secara tegas, tapi dia kelihatannya mulai melakukan pendekatan dengan beberapa partai. Misalnya, akhir Februari silam, dia bertandang ke Kantor Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan melakukan pertemuan dengan Presiden PKS Tifatul Rum Sembiring serta Ketua Dewan Syuro PKS, yang juga Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.

Beberapa hari kemudian, persisnya pada Minggu (1/3), saat memberikan pengarahan pada Rapat Akbar Pimpinan Partai Golkar Sulawesi Selatan di Makassar, JK dengan yakin mengatakan mampu mengemban amanah menjadi capres yang dimandatkan partainya. Bahkan, dia merasa bisa berbuat lebih baik dari kinerja pemerintahan saat ini. “Pemerintahan SBY- JK sudah baik, tapi saya merasa bisa lebih baik lagi,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Dia menegaskan, bahwa dia bisa bekerja lebih cepat dengan arah yang yang lebih jelas.

Begitu maraknya wacana pencalonan presiden khususnya pencalonan Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Jusuf Kalla, sehingga masyarakat pun mengelompokkan calon-calon presiden itu dengan istilah Blok sesuai dengan inisial mereka yakni Megawati yang diistilahkan dengan Blok M, Susilo Bambang diistilahkan dengan Blok S, dan Jusuf Kalla dengan istilah Blok J.

Di antara belasan capres yang diwacanakan selama ini, ketiga calon di atas memang silih berganti dijagokan beberapa survei. Sehingga gerak-gerik mereka pun selalu diperhatikan kemudian diulas oleh para pengamat dan politisi. Seperti, dengan siapa partai pendukung capres tersebut merapat atau hendak berkoalisi. Sebab seperti keyakinan beberapa pengamat, tidak satu pun capres sekarang ini yang bisa memenangkan pilpres tanpa berkoalisi dengan partai lain.

Dari pengamatan selama ini, kubu PDIP atau Blok M sudah sejak lama membuat pendekatan dengan beberapa tokoh untuk pendamping Megawati sebagai wakil presiden, pendamping yang diharapkan bisa menambah perolehan suara pada pilpres nanti. Kubu Partai Demokrat atau Blok S juga diyakini secara intens sudah melakukan pendekatan terhadap beberapa partai dan tokoh, termasuk terhadap Partai Golkar dan Jusuf Kalla sendiri. Sedangkan kubu Partai Golkar atau Blok J sendiri seperti disebutkan di atas, telah melakukan pendekatan-pendekatan terhadap beberapa partai seperti PKS dan PPP.

Mengenai kans dari ketiga kubu ini, sedikit banyak bisa terlihat dari pembicaraan tokoh-tokoh partai tersebut dalam diskusi bertema Fenomena Blok M, S, dan J dalam politik Indonesia di kantor DPP Partai Golkar, Selasa (3/3) lalu yang diikuti oleh Presiden PKS Tifatul Sembiring, Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung, Ketua DPP Partai Golkar Burhanuddin Napitupulu, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Syarief Hasan, dan Ketua DPP PPP Emron Pangkapi.

Sebelumnya, dalam kesempatan itu Tifatul mengatakan, PKS belum mau memastikan dukungan ke Partai Golkar untuk mengusung JK sebagai capres, dengan alasan, belum adanya kepastian dari Partai Golkar mengenai siapa yang secara resmi diusung partai Golkar. “Kami masih menganggap ada dua suara di Golkar. Ada yang menginginkan JK capres ada yang tetap menjadi cawapres dengan SBY,” katanya. Tifatul mengakui, berkoalisi dengan Partai Golkar cukup menggiurkan. Namun, pihaknya belum bisa memastikan dukungan terhadap Blok J selama kepastian tersebut belum ada.

Menanggapi itu, Burhanuddin mengatakan Blok J muncul karena persoalan yang tidak bisa dijembatani SBY – JK. Tantangan yang dihadapi masyarakat, kata Burhanuddin, semakin sulit. “Pemerintahan sekarang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Kita butuh pemimpin yang cepat bertindak dan kepemimpinan yang kuat,” katanya.

Menurut Burhanuddin, komitmen JK menjadi capres tidak bisa ditarik kembali. Apalagi, dukungan dari DPD terus mengalir. Komitmen JK, kata Burhanuddin tidak main-main.

Namun, Tifatul mengatakan, komitmen JK tak cukup. Yang PKS butuhkan adalah kepastian dukungan dari mesin politik. “Harus ada kepastian dukungan secara organisasi. Kalau itu ada, berarti capres yang diusung benar-benar diperjuangkan oleh semua aktivis Partai Golkar,” katanya.

Tifatul mengatakan, PKS tak ingin apa yang terjadi pada Pemilu 2004 terulang lagi. Dimana saat itu, hasil konvensi Partai Golkar memutuskan Wiranto – Solahuddin Wahid sebagai pasangan capres, namun kader Golkar justru beralih ke duet SBY – JK.

Benar seperti pendapat Tifatul, Partai Golkar memang diakui masih solid. Namun, dalam pencalonan JK sebagai capres, kesungguhan seluruh aktivis Golkar harus dipastikan. Karena, menurut pengamatan Berita Indonesia, popularitas JK di mata masyarakat sedikit lebih rendah dibanding SBY maupun Megawati.

Sementara peluang dari Blok M, dalam forum yang sama, Pramono Anung mengatakan kans Megawati semakin naik dengan pencalonan JK. Karena menurutnya, kelompok masyarakat yang puas dengan pemerintahan saat ini menjadi terpecah dua yakni kepada SBY dan JK. Karena itulah dia optimis, Megawati akan memenangkan pilpres kali ini.

Namun, dengan agak sombong, Burhanuddin mengatakan, Partai Golkar itu laksana madu. Ia didambakan oleh partai mana pun. “Bagi Golkar, sangat mudah untuk mengajak PPP, PKS, dan partai-partai lainnya untuk bergabung. Kalau PDIP, jelas sulit,” katanya.

Sedangkan dari kubu Partai Demokrat, Syarief Hasan mengatakan, Demokrat masih optimis partai tersebut akan mendapat hasil signifikan. “Pak SBY masih menjadi pemimpin yang diinginkan rakyat, seperti pada 2004 lalu,” katanya.

Demikian ketiga blok saling menjagokan partai dan capresnya. Di luar tiga blok tersebut di atas, menambah riuhnya wacana pencalonan presiden ini, belakangan muncul lagi Blok Perubahan di bawah bayang-bayang mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli yang juga gencar mengiklankan diri sebagai calon presiden. Gerakan blok yang terdiri dari partai-partai baru ini sepertinya menyiratkan gerakan asal bukan SBY.

Lagi-lagi menambah riuh, artis Dedy Mizwar juga ikut menyatakan diri siap jadi calon presiden pada Pemilu 2009 ini, entah serius atau hanya dagelan, artis yang populer dengan nama Naga Bonar ini seakan mengikuti kejutan yang pernah dibuat oleh aktivis Rizal Mallarangeng sebelumnya. MS (Berita Indonesia 65)


var addthis_pub=”arenadigitalstudio”;
Bookmark and Share

21/06/2009 - Posted by | Artikel

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: